Proses evakuasi jenazah korban penembakan pesawat Smart Air dari Bandara Korowai Batu menuju Timika menggunakan helikopter TNI-PolrI/Foto: Damai Cartenz 2026Indoragamnewscom, JAKARTA-Insiden penembakan pesawat Smart Air di Bandara Korowai Batu, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, memicu kritik keras terhadap sistem keamanan objek vital.

Serangan yang menewaskan pilot dan kopilot tersebut dianggap mengungkap rapuhnya deteksi dini di area penerbangan perintis.
Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal menegaskan bahwa peristiwa ini membuktikan adanya celah besar dalam protokol perlindungan sarana transportasi udara di wilayah konflik.
“Itu menjadi perhatian utama kita, salah satu yang menjadi perhatian utama kita termasuk mengungkapkan kelemahan pengamanan,” ujar Syamsu dikutip Jumat (20/2/2026).
Legislator dari Fraksi PKB ini mengingatkan bahwa bandara di Papua merupakan urat nadi aktivitas masyarakat yang tidak tergantikan. Ketergantungan tinggi terhadap transportasi udara membuat gangguan keamanan sekecil apa pun berdampak fatal pada mobilitas dan psikologi publik.
Menurutnya, kegagalan menjamin rasa aman di bandara dapat melumpuhkan berbagai agenda daerah dan meruntuhkan kepercayaan warga terhadap komitmen perlindungan negara.
“Bandara itu adalah sarana yang sangat vital. Kalau tidak ada rasa aman, orang bisa membatalkan kunjungannya, orang bisa membatalkan event-nya, dan yang paling utama tidak memberikan keyakinan kepada masyarakat kita, masyarakat Indonesia di Papua,” katanya.
Syamsu menilai prosedur operasional yang ada saat ini sudah tidak memadai untuk menghadapi eskalasi ancaman di Papua. Perlu ada perombakan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang lebih spesifik dan ketat, mengingat karakteristik kerawanan wilayah tersebut berbeda dengan daerah lain.
Ia mendesak pemerintah dan otoritas terkait untuk segera menyusun langkah mitigasi baru yang lebih taktis guna melindungi awak pesawat dan penumpang.
“Kalau karena itu memang penting untuk memastikan ada prosedur tetap atau ada SOP baru khusus untuk ke Papua dan pengamanan bandaranya,” jelasnya.
Sinergi antara TNI dan Polri juga harus diperkuat agar seluruh bandara di tanah Papua memiliki standar pengamanan yang seragam dan tidak mudah ditembus kelompok bersenjata.
Syamsu menekankan bahwa pembenahan ini mendesak dilakukan demi menjaga stabilitas layanan transportasi serta menjamin keselamatan nyawa para pekerja penerbangan yang bertugas di wilayah pedalaman.







Tidak ada komentar