Bupati Temanggung Agus Setyawan meninjau lahan cabai milik petani Budi Hartanto di Desa Menggoro/Foto: Media Center TemanggungIndoragamnewscom, TEMANGGUNG-Budi Hartanto tidak sedang menyusun rumus. Ia membuktikannya di tanah seluas beberapa meter persegi di Desa Menggoro.

Di tengah musim tanam yang dilanda cuaca ekstrem, petani yang memulai budidaya cabai sejak 2009 ini berhasil mencatat produktivitas tinggi. Sepuluh batang pohon cabainya menghasilkan 22,077 kilogram dari 15 kali pemetikan.
Angka itu diverifikasi Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) bersama Balai Penyuluh Pertanian (BPP). Bupati Temanggung Agus Setyawan turun langsung ke lahan.
“Sampai hari ini, Mas Budi Menggoro membuktikan diri sebagai salah satu peserta yang mampu bertahan. Dari 15 kali petik, hasilnya sudah 22 kilogram lebih. Top markotop,” ujarnya dikutip Rabu (20/5/2026).

Sayembara Cabai Kabupaten Temanggung ini tidak sekadar lomba. Pemerintah kabupaten menyediakan total hadiah Rp50 juta. Targetnya jelas: produktivitas hingga 2 kilogram per batang. Angka itu memang jauh di atas rata-rata petani yang saat ini baru berkisar 0,5 hingga 1,3 kilogram per batang.
Agus Setyawan sengaja mengulik metode Good Agricultural Practices (GAP) yang diterapkan Budi. Mulai dari pola penyiraman, pengendalian hama, hingga kalkulasi Harga Pokok Produksi (HPP).
“Karena petani tidak bisa menentukan harga jual di pasar, maka ikhtiar yang bisa dilakukan adalah menurunkan HPP,” kata bupati yang akrab disapa Agus Gondrong itu.
“Artinya, kita harus menemukan formula menanam cabai yang tidak terlalu mahal, tetapi hasilnya melimpah. Bagaimanapun, Temanggung tidak bisa lepas dari sektor pertanian.”
Harga cabai di tingkat petani Temanggung memang sedang bergerak. Per Senin (18/5/2026), cabai rawit menembus Rp65.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp50.000. Lonjakan ini dipicu menurunnya hasil panen akibat curah hujan tinggi, sementara permintaan pasar tetap tinggi . Namun DKPPP menjamin stok aman dengan luas tanam lebih dari 12.000 hektare sepanjang 2026.
Budi Hartanto tidak menampik tantangan cuaca ekstrem pada masa tanam Oktober hingga Februari lalu. “Perjuangan masih panjang, ini baru berjalan sekitar 40 persen,” ujarnya.
“Melalui Sayembara Cabai ini, saya ingin menunjukkan performa terbaik dan membuktikan arti menjadi petani sejati di Temanggung.”
Harapan Agus Setyawan lebih dari sekadar piala. Ia ingin “resep” atau metode dari pemenang sayembara ini bisa direplikasi petani lain . Sebab, kata dia, ilmu yang dimiliki pemenang nantinya akan dipakai dalam jangka panjang serta membawa berkah bagi petaninya.






