Salah satu jejak peninggalan Kerajaan Galuh, Astana Gede/Foto: Pemkab CiamisIndoragamnewscom-Kabupaten Ciamis menyimpan jejak peradaban yang terbentang dari abad ke-7 hingga era Kerajaan Galuh Kertabumi. Tiga situs, Astana Gede Kawali, Karangkamulyan, dan Gunung Susuru, menawarkan lebih dari sekadar batu prasasti dan makam kuno. Di sana, sejarah, mitos, dan konservasi alam beririsan.

Astana Gede Kawali, yang terletak 21 kilometer utara Kota Ciamis, adalah ibu kota Kerajaan Galuh . Kawasan ini menjadi pusat pemerintahan sebelum kerajaan itu bergeser ke Pakuan Pajajaran pada abad ke-15.
Sementara Karangkamulyan, dengan luas 25 hektare, tidak hanya cagar budaya tetapi juga cagar alam, menyimpan flora dan fauna langka di antara puluhan artefak batu.
Gunung Susuru, di sisi lain, menyimpan patilasan Kerajaan Galuh Kertabumi dan goa-goa yang masih menyisakan misteri.

Astana Gede Kawali berada di Dusun Indrayasa, Kecamatan Kawali. Nama “Astana” dalam bahasa Sunda berarti makam, dan “Gede” berarti besar—merujuk pada kompleks pemakaman tokoh-tokoh penting. Di situs ini, pengunjung menemukan batu prasasti, menhir, dan makam yang tersebar di area seluas sekitar dua hektare.
Prasasti-prasasti di sana ditulis dalam aksara Kawi dan Sunda Kuno, yang menurut para ahli berasal dari abad ke-14 hingga ke-15. Sejarawan mengidentifikasi beberapa prasasti merujuk pada Prabu Niskala Wastu Kancana, salah satu raja terakhir Galuh sebelum kerajaan ini bergabung dengan Pajajaran.
Karangkamulyan, sekitar 15 kilometer dari Astana Gede, menawarkan pengalaman berbeda. Kawasan ini, yang masuk Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, tidak hanya berisi sembilan situs purbakala tetapi juga dilindungi sebagai kawasan konservasi.
Di antara sembilan objek utama itu, Pancalikan, Sanghiyang Bedil, Panyabungan Hayam, dan lainnya, terdapat makam yang dikaitkan dengan Adipati Panaekan, serta batu-batu yang diduga bekas tempat peribadatan dan permusyawaratan .
Situs ini sering dikaitkan dengan legenda Ciung Wanara—putra Raja Galuh Sanghyang Permanadikusumah. Nama asli tokoh itu, Manarah, memiliki gelar resmi Prabu Jayaprakosa Manadaleswara Salabuana.
Ahli arkeologi menyatakan Karangkamulyan merupakan situs yang sarat muatan pendidikan, karena di dalamnya terdapat lapisan peradaban dari zaman purbakala, sejarah, hingga keagamaan.
Gunung Susuru, yang terletak di Kampung Bunder, Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing, menyimpan jejak Kerajaan Galuh Kertabumi . Nama tempat ini berasal dari bunga susuru, jenis kaktus yang hanya tumbuh di bukit itu.
Konon, tanaman itu menjadi pagar hidup Keraton Galuh Kertabumi dan menghiasi taman kerajaan. Pendiri keraton tersebut adalah Putri Tanduran Ageung, putri Raja Galuh Salawe, Sanghyang Cipta.
Tiga goa di Gunung Susuru menjadi daya tarik utama, bersama satu sumur tua dan temuan manik-manik serta keramik kuno . Meski belum ada penelitian arkeologi besar yang dipublikasikan secara luas, temuan permukaan menunjukkan adanya aktivitas permukiman dan perdagangan di masa lalu.
Fasilitas di situs ini kini mulai dilengkapi, menjadikannya salah satu tujuan wisata sejarah yang bisa dijangkau dari pusat Kota Ciamis.
Ketiga situs ini tidak terisolasi. Kerajaan Galuh, yang berpusat di Ciamis, merupakan kerajaan tertua di Tatar Sunda, berdiri sejak abad ke-7 . Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh Jawa Barat.
Pada abad ke-15, pusat pemerintahan bergeser ke Pakuan, menandai lahirnya Kerajaan Pajajaran. Namun, peninggalan di Ciamis tetap terpelihara di atas tanah, di bawah goa, dan di antara mitos yang terus diceritakan turun-temurun.




