Desa Tenganan Pegringsingan di Bali menyimpan kain dobel ikat dan ritual perang pandan/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Di timur Pulau Bali, sekitar dua jam perjalanan dari Denpasar, sebuah desa kuno menyimpan kain yang konon mampu menolak bala dan ritual perang yang darahnya dipersembahkan untuk dewa.

Desa Tenganan Pegringsingan adalah salah satu dari tiga desa Bali Aga, bersama Trunyan dan Sembiran—pemukiman asli yang takluk pada Kerajaan Majapahit . Di sini, masyarakat menjalani hidup berdasarkan awig-awig, hukum adat turun-temurun yang mengatur hampir setiap sendi kehidupan.
Nama desa ini merujuk pada kain kebanggaannya: gringsing. Berasal dari kata gring (sakit) dan sing (tidak), kain ini dipercaya sebagai penolak penyakit dan energi negatif. Keistimewaannya terletak padateknik pembuatannya.
Gringsing adalah satu-satunya kain di Indonesia yang dibuat dengan teknik dobel ikat, di mana benang lungsi dan pakan sama-sama diikat sebelum dicelup. Proses ini, yang hanya ditemukan di India dan Jepang selain Bali, bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Pewarna alami dari akar mengkudu, kemiri, dan daun indigo menghasilkan palet khas: merah, kuning, dan hitam—tiga warna yang melambangkan api, udara, dan air.
Kain ini begitu berharganya hingga disebutkan dalam kakawin Nagarakretagama abad ke-14 sebagai tirai kereta kencana Raja Hayam Wuruk.
Tradisi bukan sekadar benda pusaka, tetapi juga tubuh yang berluka. Setiap tahun, pada bulan Juni atau Juli, Desa Tenganan menggelar mekare-kare, atau perang pandan. Ritual ini adalah bagian dari upacara Usaba Sambah, penghormatan kepada Dewa Indra, dewa perang dalam kepercayaan Hindu setempat.
Masyarakat Tenganan meyakini desa mereka adalah pemberian Indra, dan ritual ini mengingatkan pada kemenangan sang dewa melawan Raja Maya Denawa yang durhaka.
Para pemuda, bertelanjang dada dan hanya mengenakan sarung, bertarung berpasangan menggunakan senjata dari daun pandan berduri yang diikat menyerupai gada, serta perisai anyaman rotan.
Selama tiga jam, diiringi gamelan selonding yang hanya boleh dimainkan oleh orang yang disucikan, mereka saling menyabetkan pandan selama satu menit per giliran.
Darah yang mengalir dianggap sebagai persembahan suci. Luka kemudian diobati dengan ramuan tradisional dari kunyit, lengkuas, dan cuka. Setelah perang usai, semua peserta duduk bersama, makan bersama—tanpa dendam. Ini simbol kebersamaan yang disebut megibung.
Bagi remaja putri Tenganan, ada ritual mayunan atau ayunan jantra. Dilaksanakan pada hari yang sama setelah perang pandan, upacara ini adalah penanda peralihan menuju kedewasaan.
Gadis-gadis yang disebut daha berdandan cantik mengenakan kain gringsing, lalu bergiliran menaiki ayunan kayu raksasa yang diputar oleh para pemuda.
Semakin kencang putarannya, semakin nyaring suara kayu berderit. Di balik itu ada filosofi: hidup berputar seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Para gadis harus sadar dan siap menghadapi pasang surut kehidupan.
Seluruh rangkaian ritual ini berlangsung selama 18 hari, dan bagi masyarakat Tenganan, kehadiran setiap warga, termasuk yang merantau, adalah kewajiban.
Di tengah arus modernisasi, mereka masih memegang teguh aturan leluhur, bahkan larangan membuka jendela rumah demi menjaga kesucian ruang.
Sumber: Indonesia Kaya




