
Indoragamnewscom-Allah memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik kepada tetangga dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 36, beriringan dengan perintah menyembah-Nya dan larangan mempersekutukan-Nya.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri” .
Kedudukan tetangga begitu istimewa dalam Islam hingga keimanan seseorang diukur dari cara memperlakukan mereka. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya”.
Malaikat Jibril pun terus-menerus mewasiatkan kebaikan kepada tetangga, sampai-sampai Nabi mengira tetangga akan mendapatkan hak waris seperti keluarga.

Definisi tetangga tidak dijelaskan secara rinci dalam nash. Beberapa riwayat menyebutkan 40 rumah di empat penjuru mata angin, namun riwayat tersebut dinilai lemah . Karena itu, definisi tetangga dikembalikan pada adat istiadat setempat.
Lima Adab Bertetangga
Menghormati dan Menghargai Tetangga
Setiap mukmin wajib menghormati tetangga sebagai bentuk pengamalan iman. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda, “…Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, sebaiknya ia memuliakan tetangganya” . Penghormatan dapat diwujudkan dengan tidak mengumbar aib, tidak mencampuri urusan pribadi selama tidak merugikan orang lain, serta bergaul dengan sopan.
Memperlakukan Tetangga dengan Baik
Perintah berbuat baik kepada tetangga termaktub jelas dalam QS An-Nisa ayat 36 . Ustadz Budi Jaya Putra dalam ceramahnya di Masjid Islamic Center UAD menyampaikan bahwa memiliki tetangga yang baik adalah salah satu kebahagiaan dalam hidup.
Wujud kebaikan bisa berupa menjenguk tetangga sakit, membantu kesulitan keuangan, tersenyum dan mengucap salam, serta tidak membeda-bedakan dalam pergaulan.
Saling Berbagi dan Tidak Meremehkan Pemberian
Memberi makanan kepada tetangga sangat dianjurkan, sebagaimana sabda Nabi: “Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak sayur maka perbanyaklah kuahnya dan bagikanlah kepada tetangga-tetanggamu” (HR Muslim).
Larangan meremehkan pemberian tetangga juga ditegaskan: “Wahai istri-istri kaum muslimin, jangan sampai seorang tetangga meremehkan pemberian tetangganya, meski hanya berupa kaki kambing” (HR Bukhari & Muslim) .
Tidak Menyakiti Tetangga
Menyakiti tetangga diancam dengan neraka. Rasulullah bersabda tentang seorang wanita yang rajin shalat dan puasa namun sering menyakiti tetangganya: “Ia tidak baik, ia masuk neraka” (HR Al-Hakim). Bahkan, Nabi mengulang peringatan hingga tiga kali: “Demi Allah, tidak beriman seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya” (HR Bukhari) .
Tidak Mengusik atau Mengganggu Tetangga
Mengutip Al-Adab Al-Mufrad nomor 119, Rasulullah menyebut seorang mukmin yang rajin ibadah namun perkataannya sering mengusik tetangga akan masuk neraka. Sebaliknya, orang yang tidak mengganggu tetangga meski hanya menjalankan ibadah wajib akan masuk surga.
Contoh gangguan yang harus dihindari: memarkir kendaraan di depan pintu tetangga, memutar musik keras, atau membiarkan ranting tanaman menjulur ke halaman tetangga.
Teladan Rasulullah dalam Bertetangga
Rasulullah SAW adalah teladan utama. Beliau tidak pernah membiarkan dirinya kenyang sementara tetangga kelaparan, selalu menyisihkan hadiah untuk tetangga, tidak pernah membuka aib atau menggunjing, dan tetap berbuat baik kepada tetangga yang jahat.
Bahkan, ketika seorang laki-laki mengadu tentang tetangga usil yang sering mengganggunya, Nabi menyarankan agar ia mengeluarkan barang-barangnya ke jalan. Orang-orang bertanya dan melaknat si tetangga usil, hingga akhirnya ia sadar dan berjanji tidak mengganggu lagi.
Di antara nasihat Nabi: kaum muslimin tidak boleh sengaja meninggikan bangunan melebihi tetangga hingga menutup saluran udara, wajib mengantarkan jenazah tetangga yang wafat, tidak mengganggu tetangga dengan bau masakan tanpa memberinya sebagian, dan harus sabar menghadapi tetangga yang jahat. Kesabaran ini akan membebaskan mereka dari tetangga yang jahat.




