Cempedak kaya serat, vitamin, dan senyawa antimalaria. Tapi waspadai kadar gulanya—penderita diabetes perlu kontrol ketat/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Cempedak (Artocarpus integer) berasal dari Asia Tenggara dan tersebar luas di Semenanjung Malaya, Thailand, serta wilayah Indonesia—termasuk Kalimantan, Sumatra, dan Kepulauan Riau.

Buah ini kerap disamakan dengan nangka karena bentuk luarnya yang mirip, tapi dagingnya lebih lembut, manis pekat, dan beraroma khas yang mengingatkan pada durian.
Dari sisi nutrisi, kandungan kalsium cempedak mencapai 33 miligram per 100 gram, fosfor 200 miligram, zat besi 1 miligram, plus vitamin A, B1, dan C . Serat total pada bagian rags (selaput pembungkus daging buah) bahkan bisa mencapai 40,92 persen—jauh lebih tinggi dibanding daging buahnya sendiri .
Cempedak mengandung senyawa flavonoid, stilbenoid, dan arylbenzofuron yang memiliki sifat antioksidan. Sebuah penelitian dalam Archives of Pharmacal Research melaporkan ekstrak akar cempedak mampu menghambat tirosinase hingga 90,57 persen dan menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus, S. epidermidis, serta Propionibacterium acnes—bakteri penyebab jerawat.

Klaim soal pengobatan malaria bukan tanpa dasar. Senyawa artoindonesianin dan heteriflavon C yang ditemukan dalam kulit kayu cempedak dilaporkan dapat membantu menghilangkan parasit malaria secara signifikan. Studi dalam jurnal Food Research International juga mengonfirmasi potensi antimalaria dari spesies Artocarpus ini.
Kandungan kalium dalam cempedak membantu mengatur tekanan darah dan kontraksi otot jantung. Vitamin A-nya berperan dalam kesehatan mata, sementara vitamin C mendukung produksi kolagen untuk elastisitas kulit . Folat di dalamnya juga penting untuk pembentukan sel darah merah.
Namun ada peringatan dari yayasan kesehatan diabetes. Dengan kandungan karbohidrat sekitar 23 gram per 100 gram sajian, cempedak dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang signifikan, terutama bagi penderita diabetes.
Cempedak perlu dikonsumsi dalam porsi sangat kecil atau dipasangkan dengan sumber lemak sehat atau protein untuk memperlambat penyerapan gula.
Cara konsumsi cempedak cukup beragam. Daging buah bisa dimakan segar, dikeringkan, atau digoreng dengan baluran tepung seperti pisang goreng. Di Kalimantan, kulit cempedak difermentasi menjadi mandai—olahan khas yang tak kalah populer. Bijinya pun mengandung 10-25 persen dari bobot buah, kaya karbohidrat, protein, dan serat.
Para peneliti menyebut spesies Artocarpus, termasuk cempedak, sebagai sumber potensial untuk pengembangan agen nutraceutical dan farmakologis. Tapi klaim-klaim itu masih menunggu uji klinis lebih lanjut pada manusia.






