Gombyang Dermayu, Kuliner Kepala Ikan yang Kini Jadi Warisan Budaya

3 menit membaca
Nita Susilawati
Wisata - 21 Mar 2026

Indoragamnewscom-Di pesisir utara Jawa Barat, tersimpan harta karun yang tak berbentuk emas atau permata, melainkan semangkuk kuah kuning kental berisi potongan kepala ikan.

Namanya Gombyang Dermayu, hidangan yang dulunya dianggap limbah, kini menjelma menjadi kebanggaan kuliner sekaligus Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Gombyang bukan sekadar sajian ikan biasa. Di balik sepiringnya, tersimpan cerita panjang tentang laut, perjuangan nelayan, dan kecerdikan masyarakat pesisir dalam mengolah sesuatu yang dulu nyaris tak dihargai.

Berabad-abad lalu, wilayah Indramayu dikenal sebagai penghasil ikan manyung, jenis ikan laut besar yang biasa diolah menjadi ikan asin jambal roti. Bagian kepalanya kerap dibuang, dianggap tak bernilai.

Dari sanalah kisah Gombyang bermula. Para nelayan zaman dulu membawa pulang bagian kepala ikan untuk diolah menjadi santapan keluarga. Bagian tersebut dimasak dengan teknik pindang menggunakan rempah sederhana: kunyit, bawang, jahe, cabai, dan asam jawa. Kuahnya melimpah, panas, dan harum.

Saat disajikan, potongan ikan tampak bergoyang di dalam mangkuk, melahirkan istilah gombyang—dalam bahasa pesisir berarti bergoyang atau terombang-ambing.

Carmiah (49), seorang penjual pindang gombyang di Desa Karangsong, Indramayu, mengenang masa ketika kepala ikan manyung belum dianggap bernilai. “Dulu sih kepala ikan manyung ini bukan apa-apa. Saya kemudian coba memanfaatkannya,” ungkapnya.

Harga kepala ikan saat itu hanya sekitar Rp2.500 per kilogram. Kini, setelah dikenal luas, harganya melambung hingga sepuluh kali lipat menjadi Rp25 ribu per kilogram.

Carmiah menuturkan, awal mula ia menjajakan Gombyang, peminatnya belum banyak. Warga heran dengan kepala ikan berkuah yang diolahnya, bahkan menganggapnya tak lazim. Dibantu sang suami, Tarika, ia mengenalkan hidangan ini perlahan-lahan kepada kawan-kawannya. Lama-kelamaan, makanan ini menjadi terkenal hingga menjelma menjadi ikon kuliner Kabupaten Indramayu.

Dari hidangan sederhana nelayan, Gombyang perlahan naik kelas. Kuahnya yang berwarna kuning keemasan memadukan rasa gurih dari ikan laut, asam segar dari belimbing wuluh atau asam jawa, dan pedas ringan yang menghangatkan tubuh.

Rempah yang digunakan pun khas daerah: bawang merah, bawang putih, cabai, jahe, kunyit, lengkuas, serai, dan daun salam. Belimbing wuluh memberikan sentuhan asam yang segar, sementara cabai dan jahe memberi sensasi pedas hangat.

Pemerhati kuliner tradisional Indramayu, Edi Supratman, menjelaskan bahwa Gombyang mencerminkan kearifan lokal masyarakat pesisir.

“Ini bukti bahwa masyarakat Indramayu sejak dulu tidak menyia-nyiakan apa pun dari hasil laut. Kepala ikan yang dulu dianggap limbah, dengan kecerdikan dan kesabaran mengolah rempah, bisa menjadi hidangan istimewa,” ujarnya.

Pengakuan terhadap nilai budaya Gombyang akhirnya datang. Pada tahun 2025, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan Gombyang Dermayu sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Penetapan ini menempatkan hidangan kepala ikan manyung tersebut sejajar dengan berbagai tradisi kuliner Nusantara lainnya yang diakui negara.

Dengan status sebagai warisan budaya, Gombyang Dermayu tak lagi hanya dipandang sebagai makanan lokal, tetapi telah menjadi bagian dari potensi wisata gastronomi Jawa Barat. Di kawasan pesisir Indramayu, terutama di Desa Karangsong, puluhan warung menyajikan hidangan ini dengan porsi kepala ikan utuh berbobot hingga tiga kilogram per porsi. Harga per porsi berkisar antara Rp40.000 hingga Rp60.000, tergantung ukuran kepala ikan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu, Ikhwan Fauzi, mengatakan bahwa penetapan WBTB menjadi momentum untuk terus melestarikan dan mempromosikan Gombyang sebagai ikon kuliner daerah. “Kami ingin Gombyang tidak hanya dikenal sebagai makanan enak, tetapi juga sebagai cerita tentang sejarah, budaya, dan kecerdasan lokal masyarakat Indramayu,” tuturnya.

Kini, Gombyang Dermayu telah melampaui statusnya sebagai hidangan pinggiran. Dari dapur sederhana nelayan, ia merangkak naik menjadi primadona di meja makan, menyisakan cerita tentang bagaimana sesuatu yang dulu dianggap tak berharga bisa menjadi kebanggaan, jika diolah dengan ketekunan dan rasa cinta terhadap tradisi.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!