Sepuluh cara Islami menenangkan hati berdasarkan Al-Qur’an dan hadis: dzikir, tawakal, sabar, shalat sunnah, hingga bersedekah/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Dalam al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 28, Allah menyatakan bahwa ketenangan hati hanya bisa diraih dengan mengingat-Nya. Ayat itu menjadi fondasi utama bagi setiap Muslim yang merasa gelisah, cemas, atau tertekan oleh hidup.

Namun dzikir—mengingat Allah—bukan sekadar melafalkan tasbih atau tahmid. Ia juga bukan ritual yang terpisah dari perbuatan. Dzikir sejati mencakup lisan, hati, dan anggota tubuh. Dalam praktiknya, para ulama merumuskan sepuluh jalan menuju ketenangan batin.
Pertama, dzikir lisan dan hati. Membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali setiap selesai salat adalah contoh minimal . Tujuannya bukan sekadar hitungan, tapi menghadirkan kesadaran penuh akan kebesaran Allah dalam setiap hembusan napas. “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan,” tulis Ibnul Qayyim dalam Al-Wabil Ash-Shayyib.
Kedua, tawakal. Berserah diri setelah berusaha maksimal. Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, pasti Dia akan memberimu rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, pagi hari lapar, petang hari kenyang” (HR. Tirmidzi). Tawakal menghilangkan kecemasan akan masa depan karena yakin Allah adalah sebaik-baik perencana.

Ketiga, membaca al-Qur’an. Allah menyebut kitab suci ini sebagai syifa’ (obat) bagi penyakit hati (QS. Al-Isra’: 82) . Penelitian akademik yang dipublikasikan di jurnal Garuda Kemdikbud pada September 2025 menegaskan bahwa al-Qur’an berfungsi sebagai peringatan, penyembuh, petunjuk, dan rahmat bagi yang beriman.
Keempat, memperbanyak salat sunnah. Khususnya tahajjud di sepertiga malam terakhir. Saat orang lain terlelap, seorang Muslim berdiri menghadap Rabb-nya. “Ini adalah bentuk pendekatan diri yang paling intens,” tulis BAZNAS dalam panduan spiritualnya. Salat sunnah juga mencakup dhuha dan rawatib.
Kelima, bersyukur. Dalam keadaan apa pun. Lapang atau sempit. Kaya atau miskin. Allah berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7) . Rasa syukur menumbuhkan kepuasan dan mencegah iri hati yang merusak ketenangan.
Keenam, menjauhi maksiat. Setiap dosa membebani hati. Rasulullah SAW bersabda, “Kebaikan adalah apa yang menenangkan jiwa, dan dosa adalah yang menimbulkan keraguan dalam hatimu” (HR. Ahmad). Hati yang terbebas dari dosa akan lebih mudah mencapai ketenteraman.
Ketujuh, menjaga silaturahmi dan memaafkan. Kebencian dan dendam adalah racun bagi ketenangan. Sebaliknya, memaafkan melapangkan dada. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menjalin silaturahmi” (HR. Bukhari).
Kedelapan, bersedekah. Rasulullah SAW menyebut sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api (HR. Tirmidzi) . Berbagi dengan orang lain menumbuhkan kebahagiaan batin yang tak ternilai.
Kesembilan, berdoa. Doa adalah senjata orang beriman. Rasulullah SAW mengajarkan doa khusus untuk memohon ketentraman hati: “Allahumma inni as’alukal ‘afwa wal ‘aafiyata fid dunyaa wal aakhirah…” (Ya Allah, aku memohon ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat) . Doa ini dibaca setiap pagi dan sore.
Kesepuluh, bersabar. Ujian adalah keniscayaan. Allah berfirman, “Dan bersabarlah; sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Anfal: 46) . Kesabaran mengubah kegelisahan menjadi ketenangan karena setiap musibah pasti mengandung hikmah.
“Zikir adalah nafas hati. Tanpa dzikir, hati kering. Dengan dzikir, hati hidup, jiwa tenang, langkah terasa ringan,” tulis KH Akhmad Yunus dalam artikelnya di majalah Hidayatullah, Maret 2026.
Ibnul Qayyim menambahkan: orang yang bertawakal dengan sebenar-benarnya akan dilindungi Allah dari segala keburukan, bahkan jika langit runtuh ke bumi sekalipun.
Sementara itu, jurnal ilmiah yang terindeks Garuda Kemdikbud pada 2024 menyimpulkan bahwa dzikir tidak hanya menenangkan hati, tetapi juga memandu seseorang memaknai hidup secara positif. Ia menumbuhkan kepercayaan diri, kemampuan mengontrol hati, dan pada tahap selanjutnya—aktualisasi diri.
Rasulullah SAW juga mengingatkan agar tidak berputus asa dari doa. “Doa seseorang akan dikabulkan selama ia tidak mengatakan, ‘Aku berdoa tapi belum dikabulkan'” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka ketenangan hati bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Ia diperjuangkan. Setiap hari. Dengan lisan yang basah dzikir, hati yang pasrah, dan tangan yang gemar memberi.







Tidak ada komentar