Pemain PSIM Yogyakarta Pulga Vidal melakukan mencetak gol penyeimbang ke gawang Persik Kediri/Foto: ILeagueIndoragamnewscom, JAKARTA-Ketangguhan mental menjadi kunci sukses PSIM Yogyakarta BRI Super League dalam mengamankan poin pada laga tandang pekan ke-21 musim 2025/26. Bermain di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, Jumat (13/2/2026), Laskar Mataram menunjukkan daya juang tinggi setelah dua kali tertinggal dari tuan rumah Persik Kediri.

Penampilan gemilang Pulga Vidal yang mencetak dua gol penyeimbang memastikan pertandingan berakhir dengan skor 2-2. Hasil imbang ini membuat PSIM tetap bertahan di peringkat ke-7 klasemen sementara dengan koleksi 32 poin, sekaligus menggagalkan ambisi Persik untuk memperbaiki posisi di papan tengah yang kini tertahan di peringkat ke-11.
Pertandingan berlangsung sengit sejak menit awal dengan dominasi serangan yang dibangun oleh Persik Kediri. Tuan rumah membuka keunggulan lebih dulu melalui aksi Jon Toral pada menit ke-31 sebelum akhirnya disamakan oleh Pulga Vidal tujuh menit kemudian. Memasuki babak kedua, tensi permainan semakin memanas saat Persik kembali unggul melalui eksekusi penalti Ezra Walian pada menit ke-55.
PSIM yang enggan pulang dengan tangan hampa merespons dengan cepat. Pulga Vidal kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-62, sekaligus mencetak brace yang mengunci hasil seri bagi kedua tim. Skor imbang 2-2 ini mencerminkan dinamika permainan yang terbuka di mana kedua tim saling bergantian melancarkan tekanan.

Meski berhasil membawa pulang satu poin, pelatih kepala PSIM, Jean Paul Van Gastel, memberikan catatan serius terhadap koordinasi pemainnya di lapangan. Ia mengakui timnya sempat kehilangan orientasi posisi saat mengawali pertandingan, yang berujung pada sulitnya membongkar pertahanan lawan secara efektif.
“Ini adalah pertandingan taktis dari kedua belah pihak. Kediri memulai dengan baik, dan kami mengalami kesulitan untuk mendapatkan posisi yang tepat,” kata Jean Paul Van Gastel.
Pelatih asal Belanda tersebut juga menyoroti efektivitas sirkulasi bola timnya yang dianggap tidak berjalan semestinya. Menurutnya, dominasi penguasaan bola tidak akan berarti banyak jika pemain tidak berada dalam posisi yang tepat untuk menerima atau mengalirkan umpan.
“Penguasaan bola kami tidak berada dalam posisi yang baik. Jadi, saat kami menguasai bola, kami tidak sebaik biasanya,” jelas mantan pemain Feyenoord tersebut.
Di luar kendala teknis, Van Gastel memberikan pujian tinggi terhadap cara anak asuhnya merespons situasi sulit. Kemampuan untuk bangkit dua kali setelah tertinggal gol dianggap sebagai modal berharga bagi Laskar Mataram dalam menghadapi sisa kompetisi musim ini. Van Gastel menilai hasil seri adalah capaian paling realistis yang bisa dibawa pulang dari markas lawan.
“Dua kali lawan unggul dalam skor, dan tim saya bangkit kembali. Jadi menurut saya, itu hal positif bagi kami bahwa kami bisa bangkit setelah dua kali tertinggal,” ungkapnya.
Tambahan poin dari laga tandang ini dinilai krusial untuk menjaga jarak di papan atas klasemen. Pelatih memandang satu poin dari markas lawan merupakan raihan terbaik yang bisa didapatkan timnya saat ini melihat jalannya pertandingan yang sangat dinamis.







Tidak ada komentar