MUI: Jangan Buru-buru Keluar dari BoP, Serangan ke Iran Sudah Ada Sebelum Forum Itu Lahir

2 menit membaca
Ninding Yulius Permana
Nasional, News - 04 Mar 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ukhuwah KH Zaitun Rasmin meminta publik bersikap objektif dalam menilai desakan agar Indonesia keluar dari keanggotaan Board of Peace (BoP).

Menurutnya, serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang memicu eskalasi konflik terkini terjadi jauh sebelum forum perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump itu berdiri.

“Kalau mengaitkan dengan BoP, ya rasa-rasanya kita perlu objektif. Sebab, serangan Zionis dan Amerika ke Iran itu sudah terjadi sebelum ada BoP,” kata Zaitun dalam unggahan di akun pribadi Instagramnya, @zaitunrasmin_official, Selasa (3/3/2026).

Zaitun yang juga Ketua Umum Wahdah Islamiyah itu justru mempertanyakan langkah apa yang dapat dilakukan pemerintah jika Indonesia benar-benar hengkang dari forum tersebut untuk membantu perjuangan Palestina.

“Bagi saya, kalau pemerintah kita keluar dari BoP, kira-kira apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah kita untuk benar-benar membantu saudara kita di Gaza, Palestina? Bukankah ini masih ada peluang, apalagi mereka diberi kesempatan,” ujarnya.

Menurut dia, BoP menjadi wadah yang saat ini paling mungkin untuk membicarakan perdamaian di Gaza dan kemerdekaan Palestina. Ia menilai pesimisme terhadap efektivitas lembaga itu sebagai sekadar teori kemungkinan.

“Kalau orang berbicara bahwa itu kemungkinannya kecil (untuk) berhasil. Itu namanya teori kemungkinan. Bisa juga berhasil. Maka, biarlah pemerintah kita bersama tujuh negara Islam lainnya, bahkan sudah bertambah jadi beberapa negara Islam, melakukan tugas itu. Dan tugas kita untuk terus berjuang secara maksimal,” paparnya.

Zaitun menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh berhenti bersuara sampai Palestina merdeka dan genosida terhenti. Ia mengingatkan bahwa itu merupakan tanggung jawab moral yang diamanatkan UUD 1945. Para tokoh yang mendesak keluarnya Indonesia dari BoP diminta menggunakan hati nurani dan berpikir jernih.

“Dan di sinilah pentingnya berbagi tugas. Biarlah pemerintah dengan tugasnya. Dan kita dengan tugas kita pula. Ini poin penting. Jadi agar kita tidak mudah terjatuh pada kesalahan menilai. Apalagi nanti menyebabkan perpecahan di antara kita,” kata Zaitun.

Ia pun mengingatkan jejak sejarah bangsa Indonesia yang selalu membela kemerdekaan Palestina. Negara-negara Islam yang terlibat di dalam BoP pun memiliki rekam jejak panjang dalam perjuangan serupa.

“Kalau kita hanya menilai yang sekarang. Kita bisa keliru. Ini sejarah panjang. Kata Bung Karno, ‘jasmerah’. Jangan lupakan sejarah. Maka supaya kita bisa tetap tidak terprovokasi,” terangnya.

Yang terpenting, lanjut dia, para pemuka agama atau ulama untuk terus berkomunikasi dengan pemerintah secara dingin, lalu mengambil kesimpulan bersama yang lebih maslahat bagi umat di mana pun mereka berada.

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!