Atlet Flag Football, Qisma Hayattiara/Foto: Dede Idrus/IndoragamnewscomIndoragamnewscom, BANDUNG-Qisma Hayattiara menjadi sosok penting dalam perkembangan olahraga flag football di Indonesia. Atlet berusia 26 tahun ini tercatat sebagai bagian dari Timnas flag football Indonesia.

Qisma mengungkapkan bahwa perjalanannya di dunia flag football terbilang unik. Ia baru pertama kali mengenal olahraga ini pada akhir tahun 2022 setelah diajak oleh seorang teman, meski sebelumnya lebih dulu menekuni basket.
“Pertama kali main flag football akhir tahun 2022 itu karena diajak sama teman. Olahraga aku sebelumnya basket,” ujar Qisma, Senin (12/1/2026).
Ketertarikan Qisma semakin kuat setelah mencoba langsung flag football. Menurutnya, olahraga ini menawarkan keseruan tersendiri tanpa risiko benturan fisik yang tinggi seperti rugby atau american football.

“Ini olahraga rugby yang non-kontak. Aku bisa bilang olahraga ini safety, tapi tetap seru,” ungkapnya.
Setelah mulai menekuni flag football, kesempatan besar datang pada tahun 2023. Qisma mengikuti proses seleksi Timnas dan secara mengejutkan namanya langsung masuk dalam daftar pemain yang dipanggil.
“Tahun 2023 tiba-tiba ada seleksi timnas, terus nama aku dipanggil untuk timnas, dan sampai sekarang terus di sini,” kata Qisma.
Ia menilai salah satu daya tarik utama flag football adalah kombinasi antara kesenangan bermain dan faktor keamanan bagi atlet. Hal tersebut membuatnya merasa nyaman untuk terus berkembang di cabang olahraga ini.
Wanita kelahiran Jakarta ini juga melihat masa depan cerah flag football secara global. Cabang olahraga ini disebut sudah masuk dalam agenda Olimpiade dan juga berpotensi dipertandingkan di SEA Games.
“Flag football sudah ada next chapternya, masuk ke Olympic dan SEA Games, itu kenapa aku suka banget menekuni olahraga ini,” jelasnya.
Terkait tingkat kesulitan, Qisma menilai flag football bukan olahraga yang sulit dipelajari, terutama karena bersifat non-kontak. Namun, ia mengakui bahwa teknik menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain.
“Gak susah, selagi mau belajar pasti bisa. Paling teknik-tekniknya saja yang bikin agak susah,” tuturnya.
Meski belum terlalu populer di Indonesia dan masih minim kompetisi, Qisma tidak mempermasalahkan harus mencari pengalaman bertanding di luar Bandung.
“Gak apa-apa cari kompetisi ke luar, karena memang masih jarang dan belum seterkenal olahraga lain,” katanya.
Ia pun yakin dalam dua hingga tiga tahun ke depan, flag football akan semakin dikenal masyarakat luas seiring dengan perkembangan dan eksposur internasional.
“Dalam 2–3 tahun ke depan, olahraga ini bakal dikenal banyak orang,” ucapnya







Tidak ada komentar